16
Ja
Arti Aqiqah Menurut Kepercayaan Islam
16.01.2017 05:49


Dari sisi bahasa ‘Aqiqah artinya: menyabet. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, sebab dipotongnya sosial binatang secara penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan jika aqiqah ialah nama bagi hewan yang disembelih, disebut demikian karena lehernya dipotong Ada pula yang menyiarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Rambut yang ada pada oknum si momongan ketika ia keluar mulai rahim ibu, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah merupakan penyembelihan domba/kambing untuk balita yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, atau 21. Jumlahnya 2 ekor untuk budak laki-laki & 1 kontrol untuk budak perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi pamor dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan momongan perempuan wahid kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh menitahkan: “Aqiqah dilaksanakan karena kemunculan bayi, maka sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua gelaran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Mulai ‘Amr bin Syu’aib mulai ayahnya, daripada kakeknya, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW sudah ber ‘aqiqah untuk Patut dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, sira memberi seri dan menitahkan supaya dihilangkan kotoran mulai kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di dalam AI-Mustadrak surah 4, sesuatu. 264]

Tanggapan: Hasan & Husain ialah cucu Rasulullah saw SAW.

Daripada Fatimah binti Muhammad saat melahirkan Lembut, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada manusia miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]

Atas Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Pedoman Aqiqah Anak adalah sunnah (muakkad) setara pendapat Kepala Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i serta sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan rutin ulama ulung fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sebab kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah adalah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan percik darinya telau (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujar: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah komando, namun bukan bersifat tentu, karena ada sabdanya yang memalingkan dari kewajiban yakni: “Barangsiapa diantara kalian terselip yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, oleh karena itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Abu Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan dalil yang memutar perintah yang pada dasarnya tentu menjadi sunnah.

Imam Malik berkata: Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh di dalam aqiqah ini hewan yang picak, mersik, patah urat, dan nyeri. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam fauna aqiqah itu cacat-cacat yang bukan diperbolehkan di dalam qurban.

Buraidah berkata: Lepas kami di masa jahiliyah apabila lengah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan menggores kepalanya secara darah kibas itu. Jadi setelah Yang mahakuasa mendatangkan Agama islam, kami menjagal kambing, menyikat (menggundul) kepala si budak dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Debu Dawud bagian 3, hal. 107]

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di dalam masa jahiliyah apabila tersebut ber’aqiqah untuk seorang momongan, mereka mengotori kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur serat si bayi mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW berfirman, “Gantilah darah itu beserta minyak wangi”.[HR. Ibnu Hibban dengan tartib Rumpun Balban perkara 12, sesuatu. 124]

Kegiatan aqiqah pikir kesepakatan getah perca ulama ialah hari ketujuh dari kemunculan. Hal tersebut berdasarkan hadits Samirah di mana Rasul SAW berkata, “Seorang budak terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Dan jika tidak juga, maka dalam hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Kepala Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) atas dasar imbauan, maka sekiranya menyembelih di dalam hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah sedang. Karena sendi ajaran Agama islam adalah memudahkan bukan mengalutkan sebagaimana nasihat Allah SWT: “Allah menodong kemudahan bagimu dan bukan menghendaki kegaduhan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini berlandaskan sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi pamor. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan sama At Tirmidzi)

Dan jika tidak bisa melaksanakannya pada hari ketujuh, maka sanggup dilaksanakan dalam hari ke empat belas kasihan, dan apabila tidak bisa, maka dalam hari ke dua puluh satu, itu berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah daripada ayahnya mulai Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah tersebut disembelih di hari ketujuh, ke empat belas, dan ke 2 puluh wahid. ” (Hadits hasan riwayat Al Baihaqiy)

Namun sesudah tiga ahad masih tidak mampu oleh karena itu kapan selalu pelaksanaannya di kala telah mampu, karena pelaksanaan di hari-hari di tujuh, ke empat belas dan ke dua puluh satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama bukan wajib. & boleh pun melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Momongan yang menyisih dunia pra hari ketujuh disunnahkan pun untuk disembelihkan aqiqahnya, terlebih meskipun bayi yang kelulusan dengan ukuran sudah berusia empat kamar di dalam perut ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada bapak si budak. Namun jika seseorang yang belum di sembelihkan fauna aqiqah sebab orang tuanya hingga ia besar, jadi dia sanggup menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan jika tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri maka hal itu tidak apa-apa menurut aku, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan dalam hari ketujuh dari kemunculan. Jika gak bisa, oleh sebab itu pada hari keempat belas. Dan jika tidak bisa agaknya, maka di dalam hari ke-2 puluh wahid. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi muatan ayah.

Akan tetapi demikian, bila ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia sanggup melakukan aqiqah sendiri dalam saat mantap. Satu tatkala al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah begitu besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Kepala Ahmad menyongsong, “Menurutku, jika ia belum diaqiqahi saat kecil, oleh sebab itu lebih elok melakukannya seorang diri saat mantap. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga berpendapat demikian. Menurut mereka, anak-anak yang telah dewasa yang belum diaqiqahi oleh manusia tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Nominal Hewan

Banyak hewan aqiqah minimal ialah satu upaya baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sesuai perkataan Putri Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan & Husain wahid domba tunggal domba. ” (Hadits shahih riwayat Bubuk Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Kita harus pulih bahwa Lembut dan Husain adalah budak kembar. Oleh sebab itu pada tunggal kelahiran itu disembelih 2 ekor kambing.

Namun yang lebih superior adalah dua ekor untuk anak laki-laki dan 1 ekor untuk bani perempuan berdasar pada hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengharuskan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor sedia dan mulai anak perempuan satu sudut. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang memiliki arti: “Nabi SAW memerintahkan meronce agar disembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki dua ekor kambing yang selevel dan atas anak perempuan satu kontrol. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan secara sang keturunan

1. Disunnatkan untuk meluluskan nama serta mencukur serat (menggundul) dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir dalam hari Unik, ‘aqiqahnya jatuh pada hari Sabtu.

dua. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor wedus sedang bagi anak dara 1 kontrol.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan menurut orang tua si anak, tetapi boleh pun dilakukan sebab keluarga yang lain (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah ini hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Bagus Mentah / Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan di dalam kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kibas untuk bani dan mono ekor kibas untuk bani perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah dikasih kepada tetangga dan sengsara miskin pun bisa dikasih kepada orang2 non-muslim. Makin jika hal itu dimaksudkan untuk memikat simpatinya & dalam rangka dakwah. Dalilnya adalah nasihat Allah, “Mereka memberi membaham orang melarat, anak yatim, dan tahanan, dengan prinsip senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada tatkala itu ialah orang-orang ridah. Namun demikian, keluarga pula boleh menandaskan sebagiannya.

Yang berhubungan secara binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa menjamu apakah jantan atau betina, sebagaimana hal di bawah ini:

Mulai Ummu Kurz AI-Ka’biyah, bahwasanya ia pernah bertanya lawan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka ceramah beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor wedus dan untuk anak perempuan satu kontrol kambing. Gak menyusahkanmu cantik kambing itu jantan ataupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum mendapatkan dalil yang lain yang menunjukkan adanya hewan selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Zaman yang dituntunkan oleh Rasul SAW menurut dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 per kelahiran bani tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian ketuat Aqiqah

Akan halnya dagingnya dipastikan dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, & mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan mengumpulkan kerabat serta tetangga untuk menyantap santapan daging aqiqah yang sungguh matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada umat islam, dan boleh mengundang sobat-sobat dan macam untuk menyantapnya, atau larat juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Ibnu Bazz mengatakan: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya dan memasaknya lantas mengundang manusia yang tuan lihat terampil diundang atas kalangan nenek, tetangga, sobat-sobat seiman dan sebagian sosok faqir untuk menyantapnya, serta hal sedarah dikatakan per Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Bani

Tidak diragukan lagi jika ada hubungan antara pengertian sebuah identitas dengan yang diberi identitas. Hal tersebut ditunjukan beserta adanya sejumlah nash syari yang menyatakan hal tersebut.

Dari Abu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 & Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menanggapi sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang terkandung dalam identitas berkaitan dengannya sehingga serasa makna-makna itu diambil darinya dan bagai nama-nama tersebut diambil mulai makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui imbas nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah berikut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang mendapatkan Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Putri Al-Musayyib mengatakan: “Orang tersebut senantiasa bergaya keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang indah untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang bagus yang ranggi diberikan merupakan nama rasul penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana sabda beliau: Mulai Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari segi ajaran Islam, silahkan kumpulan:

Memberi Sebutan Bayi / Anak Secara Islami


Menyikat Rambut

Menyikat rambut merupakan anjuran Rasul yang amat baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru menyembul pada hari ketujuh.

Di dalam hadits Samirah disebutkan kalau Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak tersekat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi nama, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik memberitahukan bahwa Fatimah menimbang ukuran rambut Patut dan Husein lalu sira menyedekahkan perak seberat serabut tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut kudu dilakukan secara rata; gak boleh hanya mencukur sekitar kepala serta sebagian lainnya dibiarkan. Pasti lah semakin banyak serat yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar agaknya sedekahnya.

Rayuan Menyembelih Hewan Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Berarti: Dengan nama Allah, akur Allah terimalah (kurban) dari Muhammad serta keluarga Muhammad serta mulai ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa bayi baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Memiliki arti: Aku berlindung untuk budak ini secara kalimat Allah Yang Tertib dari sekalian gangguan syaitan dan gelaran binatang juga gangguan sorotan mata yang dapat menjinjing akibat leta bagi segala sesuatu yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Pendapat Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu situs mempunyai beberapa hikmah diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim USA tatkala Sang pencipta SWT menutup putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di aqiqah tersebut mengandung bagian perlindungan mulai syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir tersebut, dan tersebut sesuai beserta makna hadits, yang memiliki arti: “Setiap bani itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Jadi Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Tuhan lebih tersembunyi dari sindiran syaithan yang sering mengocok anak-anak. Hal inilah yang dimaksud sebab Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sambil aqiqahnya”.

3. Aqiqah adalah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak dalam hari perkiraan. Sebagaimana Kepala Ahmad mengeluarkan: “Dia tergadai dari menganjurkan Syafaat bagi kedua orang-orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) lawan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus guna wujud mencicip syukur bagi karunia yang dianugerahkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala beserta lahirnya sang anak.

5. Aqiqah sebagai sarana menunjukkan rasa ribut dalam melaksanakan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukminat yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menasihati ukhuwah (persaudaraan) diantara warga.

Dan tetap banyak lagi hikmah yang terkandung pada pelaksanaan Syariat Aqiqah tersebut.

harga aqiqah bandung Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Manjapada al-Bustoni, secara judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Make your free website at Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!